Artikel ditinjau oleh: drg. Raedi Mahardika, Sp.BMM
Gusi bengkak, merah, dan berdarah saat menyikat gigi adalah keluhan yang cukup sering kami temui dari pasien di The Smile Dental Clinic selama bulan Ramadan. Banyak pasien yang mengabaikan kondisi ini karena menganggapnya sebagai hal biasa akibat puasa. Padahal, gusi berdarah bisa menjadi tanda awal penyakit gusi yang serius jika tidak ditangani.
Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa masalah gusi cenderung memburuk saat puasa dan bagaimana cara mengatasinya.
Penyebab Gusi Bengkak dan Berdarah Saat Puasa
Gusi berdarah umumnya disebabkan oleh penumpukan plak dan karang gigi yang memicu peradangan gusi (gingivitis). Saat berpuasa, beberapa faktor dapat memperparah kondisi yang sudah ada sebelumnya.
1. Penumpukan Plak dan Karang Gigi
Plak yang tidak dibersihkan akan mengeras menjadi karang gigi dan mengiritasi garis gusi. Peradangan yang terjadi membuat gusi mudah berdarah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi.
2. Produksi Air Liur Berkurang
Selama puasa, produksi air liur menurun. Padahal air liur berfungsi membantu membersihkan bakteri dan sisa makanan di sekitar garis gusi. Kondisi mulut yang lebih kering mempermudah bakteri berkembang.
3. Konsumsi Makanan Tinggi Gula Saat Berbuka
Makanan dan minuman manis saat berbuka dapat memicu pertumbuhan bakteri penyebab plak. Jika tidak segera dibersihkan, risiko radang gusi meningkat.
4. Kekurangan Vitamin C dan K
Pola makan yang tidak seimbang selama Ramadan dapat menyebabkan asupan vitamin C dan K kurang optimal. Padahal kedua vitamin ini berperan penting dalam menjaga kekuatan jaringan gusi dan proses pembekuan darah.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hampir 47% orang dewasa di atas 30 tahun memiliki beberapa bentuk penyakit periodontal. Puasa bukanlah penyebab utama penyakit gusi, tetapi kondisi yang sudah ada dapat memburuk apabila kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik.
Baca Juga: Bolehkah ke Dokter Gigi Saat Puasa?
Perbedaan Gingivitis vs Periodontitis
Memahami perbedaan antara gingivitis dan periodontitis penting agar penanganan dapat dilakukan sejak dini sebelum kerusakan menjadi lebih serius.
1. Gingivitis: Tahap Awal yang Masih Bisa Dipulihkan
Gingivitis adalah tahap awal penyakit gusi. Ciri-cirinya meliputi:
- Gusi tampak merah dan bengkak
- Mudah berdarah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi
- Biasanya tidak disertai nyeri hebat
Pada tahap ini, kerusakan belum mencapai tulang penyangga gigi. Dengan perawatan yang tepat seperti pembersihan karang gigi dan perbaikan kebersihan mulut, kondisi ini masih dapat pulih sepenuhnya.
2. Periodontitis: Infeksi Serius yang Merusak Jaringan Penyangga
Jika gingivitis tidak ditangani, peradangan dapat berkembang menjadi periodontitis. Pada kondisi ini:
- Terjadi kerusakan pada tulang dan jaringan pendukung gigi
- Gigi bisa terasa goyang
- Risiko kehilangan gigi meningkat
Menurut Cleveland Clinic, periodontitis merupakan penyebab utama kehilangan gigi pada orang dewasa. Kondisi ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, serta komplikasi kehamilan.
Karena itu, gusi berdarah tidak boleh dianggap sepele. Penanganan sejak tahap gingivitis jauh lebih sederhana dan efektif dibandingkan saat sudah berkembang menjadi periodontitis.
Cara Mengatasi Gusi Bengkak Saat Puasa
Gusi bengkak saat puasa umumnya dipicu oleh penumpukan plak dan kebersihan mulut yang kurang optimal. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membantu meredakannya:
1. Perbaiki Teknik Menyikat Gigi
Gunakan sikat gigi berbulu lembut (soft bristle) dan sikat dengan gerakan melingkar yang lembut. Hindari gerakan maju-mundur dengan tekanan keras karena dapat memperparah peradangan dan menyebabkan gusi berdarah.
2. Gunakan Benang Gigi Setiap Hari
Benang gigi (dental floss) membantu membersihkan sela-sela gigi yang tidak terjangkau sikat. Gunakan terutama setelah sahur dan berbuka untuk mengurangi penumpukan plak di area tersembunyi.
3. Berkumur dengan Air Garam Hangat
Larutkan setengah sendok teh garam dalam segelas air hangat, lalu berkumur perlahan tanpa menelan. Air garam membantu mengurangi peradangan serta menekan pertumbuhan bakteri penyebab radang gusi.
4. Gunakan Obat Kumur Antiseptik Jika Diperlukan
Untuk kasus gingivitis yang sudah terlihat jelas, National Health Service (NHS) UK merekomendasikan penggunaan obat kumur antiseptik berbasis chlorhexidine guna membantu mengontrol peradangan.
Jika gusi tetap bengkak, nyeri, atau berdarah lebih dari beberapa hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter gigi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca Juga: Bolehkah Pakai Obat Kumur Saat Puasa?
Nutrisi untuk Kesehatan Gusi
Asupan nutrisi saat sahur dan berbuka berperan penting dalam menjaga kesehatan gusi. Kekurangan vitamin dan mineral tertentu dapat meningkatkan risiko peradangan maupun perdarahan gusi.
1. Vitamin C untuk Pembentukan Kolagen
Vitamin C membantu pembentukan kolagen yang menjadi komponen utama jaringan gusi. Sumber yang baik antara lain jeruk, stroberi, paprika, dan brokoli. Kekurangan vitamin C dapat membuat gusi lebih mudah berdarah dan meradang. Menurut Healthline, defisiensi vitamin C merupakan salah satu penyebab utama perdarahan gusi yang sering tidak disadari.
2. Vitamin K untuk Mengurangi Perdarahan
Vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah, sehingga membantu mengurangi risiko perdarahan gusi. Sayuran hijau seperti bayam dan kangkung merupakan sumber vitamin K yang baik.
3. Omega-3 Bersifat Anti-Inflamasi
Asam lemak omega-3 yang terdapat dalam ikan seperti salmon dan tuna memiliki sifat anti-inflamasi. Nutrisi ini membantu menekan peradangan pada jaringan gusi dan mendukung kesehatan mulut secara keseluruhan.
Dengan pola makan yang seimbang dan kaya nutrisi, kesehatan gusi dapat tetap terjaga selama Ramadan maupun di luar bulan puasa.
Kapan Harus ke Dokter Gigi?
Segera kunjungi dokter gigi jika gusi berdarah setiap kali menyikat gigi dan tidak membaik setelah dua minggu, ada pembengkakan gusi yang tidak kunjung hilang, gusi terasa nyeri atau berdenyut, ada gigi yang terasa goyang, napas bau busuk yang persisten, atau keluar nanah dari gusi. Tanda-tanda ini bisa mengindikasikan periodontitis yang memerlukan perawatan profesional segera.
Rekomendasi Dokter Gigi di Tangerang Selatan

Gusi bengkak dan berdarah saat puasa bukan hal yang normal dan tidak boleh diabaikan. Perbaiki teknik menyikat gigi, jaga nutrisi, dan jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter gigi jika keluhan tidak membaik. Kesehatan gusi yang baik adalah fondasi dari kesehatan gigi secara keseluruhan.
Jangan lupa untuk selalu memeriksakan gigi minimal setiap enam bulan sekali di The Smile Orthodontic yang punya banyak dokter gigi berpengalaman di BSD, Tangerang Selatan. Di klinik gigi kami di Tangsel, ada layanan Bedah Gusi dan Frenulum untuk memperbaiki bentuk dan kesehatan gusi, mengatasi senyum gusi (gummy smile), serta mempermudah pembersihan gigi agar terhindar dari plak dan penyakit periodontal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah gusi berdarah saat puasa berarti kekurangan vitamin?
Tidak selalu. Penyebab paling umum gusi berdarah adalah penumpukan plak, bukan kekurangan vitamin. Namun, defisiensi vitamin C dan K bisa memperparah kondisi ini.
Bolehkah tetap menyikat gigi jika gusi berdarah?
Ya, justru harus tetap menyikat gigi. Berhenti menyikat gigi karena gusi berdarah akan memperburuk kondisi. Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan teknik yang benar.
Apakah gusi berdarah bisa menyebabkan bau mulut saat puasa?
Ya. Perdarahan gusi menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak, yang kemudian menghasilkan senyawa berbau tidak sedap dan memperparah bau mulut saat puasa.
Apakah obat kumur bisa mengatasi gusi berdarah?
Obat kumur antiseptik bisa membantu mengurangi bakteri dan peradangan, tetapi bukan solusi utama. Pembersihan karang gigi profesional (scaling) dan perbaikan teknik menyikat gigi adalah langkah yang lebih efektif.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Periodontal disease. Diakses 10 Februari 2026 dari https://www.cdc.gov/oral-health/about/gum-periodontal-disease.html
- Cleveland Clinic. (2023). Gingivitis. Diakses 10 Februari 2026 dari https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10950-gingivitis-and-periodontal-disease-gum-disease
- National Health Service. (2023). Gum disease. Diakses 10 Februari 2026 dari https://www.nhs.uk/conditions/gum-disease/
Healthline. (2019). What You Need to Know About Bleeding Gums. Diakses 10 Februari 2026 dari https://www.healthline.com/health/bleeding-gums

