Artikel ditinjau oleh: drg. Hanaria Putri Sari Effrianto, Sp.Ort
Gigi tidak rata adalah kondisi ketika posisi gigi tidak sejajar atau bertumpuk, sehingga susunan gigi tampak berjejal, renggang, atau tidak simetris. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh faktor genetik, kebiasaan masa kecil seperti menghisap jempol, kehilangan gigi susu terlalu dini, hingga ukuran rahang yang tidak seimbang dengan jumlah gigi.
Selain memengaruhi penampilan, gigi tidak rata bisa menimbulkan masalah serius, seperti sulit membersihkan gigi, meningkatkan risiko karies, radang gusi, gangguan mengunyah, hingga nyeri sendi rahang.
Nah, untuk tahu apakah kamu perlu behel atau tidak, ada beberapa ciri gigi butuh behel yang perlu diperhatikan.
Apa Itu Gigi Tidak Rata?

Gigi tidak rata adalah kondisi ketika posisi gigi tidak tersusun lurus atau rapih di dalam mulut. Dalam istilah medis disebut juga maloklusi. Kondisi ini bisa berupa gigi yang bertumpuk, miring, terlalu renggang, atau bahkan rahang atas dan bawah tidak sejajar.
Penyebab Gigi Tidak Rata
Ada beberapa penyebab gigi tidak rata dan butuh behel, yakni:
- Bentuk rahang kecil atau keturunan gigi berjejal.
- Kebiasaan menghisap jempol, menggunakan dot terlalu lama, atau menjulurkan lidah saat menelan.
- Kehilangan gigi susu terlalu cepat, sehingga membuat ruang gigi tetap bergeser.
- Ukuran rahang dan gigi tidak seimbang
Masalah ini tidak hanya memengaruhi tampilan wajah, tapi juga memicu penumpukan plak, karies, gangguan bicara, hingga nyeri sendi rahang.
Ciri-Ciri Gigi Butuh Behel

Ada beberapa ciri gigi butuh behel, di antaranya:
1. Gigi Berjejal (Crowding)
Crowding terjadi ketika jumlah gigi tidak seimbang dengan ukuran rahang, sehingga gigi bertumpuk atau miring. Kondisi ini membuat sela-sela gigi sulit dijangkau sikat gigi maupun benang gigi. Akibatnya, sisa makanan mudah menumpuk, memicu karies (gigi berlubang), gingivitis (radang gusi), hingga bau mulut. Jika tidak ditangani, crowding juga dapat menyebabkan gigi bergeser semakin parah seiring waktu.
2. Celah Lebar Antar Gigi (Spacing)
Sebaliknya dari crowding, spacing adalah adanya jarak lebar antar gigi. Melansir dari Petrousortho, celah ini bisa muncul karena ukuran rahang terlalu besar atau gigi yang ukurannya kecil. Meskipun terlihat sepele, spacing membuat makanan mudah terselip, gusi jadi lebih rentan iritasi, dan memicu periodontitis atau penyakit gusi lanjutan. Selain itu, celah yang terlalu besar juga memengaruhi estetika senyum.
3. Masalah Gigitan (Malocclusion)
Malocclusion adalah ketidaksesuaian posisi gigi atas dan bawah saat menggigit. Bentuknya bisa berbeda-beda:
Overbite
Gigi atas menutup terlalu jauh gigi bawah. Akibatnya gigi depan mudah aus dan bibir tampak menonjol.
Underbite
Gigi bawah lebih maju dari gigi atas. Bisa menyebabkan wajah terlihat asimetris dan kesulitan menggigit makanan.
Crossbite
Gigi atas dan bawah tidak sejajar ketika menutup mulut. Kondisi ini bisa membuat gigi terkikis tidak rata dan menekan gusi.
Openbit
Gigi depan tidak menutup saat menggigit, seringkali akibat kebiasaan menjulurkan lidah atau mengisap jempol. Openbite bisa menyebabkan gangguan bicara, misalnya cadel.
4. Sering Menggigit Lidah atau Pipi
Jika kamu sering tidak sengaja menggigit lidah atau bagian dalam pipi ketika makan atau bicara, ini bisa menjadi tanda posisi gigi tidak ideal. Gigi yang miring atau tidak selaras membuat area “jebakan” yang membuat jaringan lunak lebih mudah tergigit. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan luka kecil berulang di mulut.
5. Nyeri atau Bunyi di Rahang
Klik, bunyi “krek”, atau rasa ngilu di sendi rahang ketika membuka mulut adalah tanda stres pada sendi temporomandibular (TMJ). Salah satu penyebabnya adalah gigitan yang tidak selaras. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan TMJ kronis yang menimbulkan sakit kepala, telinga berdenging, bahkan kesulitan membuka mulut lebar.
6. Sakit Kepala atau Leher
Banyak orang tidak menyadari bahwa gigi tidak rata bisa menyebabkan sakit kepala. Maloklusi membuat otot rahang bekerja ekstra keras untuk menutup mulut atau mengunyah. Ketegangan ini merambat ke otot leher dan kepala, sehingga memicu rasa nyeri atau tegang di area tersebut. Jika kamu sering mengalami sakit kepala tanpa penyebab jelas, posisi gigi bisa jadi salah satu pemicunya.
7. Gangguan Bicara
Gigi yang tidak berada pada posisi normal bisa menghambat pergerakan lidah. Akibatnya, beberapa huruf tertentu sulit diucapkan dengan jelas, misalnya “s” atau “t”. Anak-anak dengan openbite atau spacing besar sering mengalami cadel atau pelafalan yang tidak sempurna. Pada orang dewasa, gangguan bicara ini bisa memengaruhi rasa percaya diri saat berkomunikasi.
Kenapa Perlu Ditangani Cepat?

American Association of Orthodontists (AAO) menyebutkan bahwa pemeriksaan ortodontik sebaiknya dilakukan sejak usia 7 tahun. Tapi untuk remaja dan dewasa, perawatan dengan behel tetap efektif dan bisa meningkatkan kesehatan gigi jangka panjang.
Rekomendasi Klinik Ortodonti Tangerang Selatan

Kalau kamu tinggal di BSD atau Pamulang, Tangerang Selatan, kamu bisa konsultasi langsung ke The Smile Orthodontic & Aesthetic Dental Clinic, klinik gigi spesialis ortodonti dan estetik dengan dokter berpengalaman, termasuk dalam menangani anak. Berlokasi strategis di BSD dan dekat Pamulang, Tangerang Selatan, klinik ini siap bantu kamu mendapatkan senyum sehat dan rapi. Hubungi admin via WhatsApp di 087712000300 sekarang untuk cek jadwal dokter!
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
- Ciri-ciri gigi yang harus di behel?
Gigi berjejal, celah antar gigi terlalu lebar, gigitan tidak sesuai (overbite, underbite, crossbite, openbite), sering menggigit lidah/pipi, hingga adanya keluhan nyeri rahang atau sakit kepala terkait posisi gigi. - Gigi seperti apa yang tidak bisa di behel?
Behel umumnya bisa dipasang pada hampir semua kasus. Namun, ada kondisi tertentu yang membuat pemasangan behel tidak disarankan, misalnya gigi dan gusi tidak sehat (penyakit periodontal aktif), tulang penyangga gigi sudah terlalu lemah, atau pasien tidak bisa menjaga kebersihan mulut selama perawatan. Pada kasus tersebut, perawatan lain bisa dipertimbangkan lebih dulu. - Kapan kita harus pakai behel?
Menurut American Association of Orthodontists, pemeriksaan ortodontik sebaiknya dilakukan sejak usia 7 tahun. Jika sudah muncul tanda crowding, gigitan tidak normal, atau gangguan fungsi (mengunyah, bicara), sebaiknya segera konsultasi. Untuk remaja dan dewasa, behel tetap bisa dipasang kapan saja sesuai kebutuhan. - Berapa biaya pasang behel gigi?
Biaya bervariasi tergantung jenis behel (konvensional, self-ligating, atau clear aligner) dan tingkat kesulitan kasus. Di klinik ortodontik, kisaran biaya umumnya mulai dari beberapa juta hingga belasan juta rupiah. Konsultasi langsung sangat disarankan agar dokter bisa memberi estimasi sesuai kondisi gigimu. - Berapa lama perawatan behel?
Umumnya 18–24 bulan, tapi bisa lebih cepat atau lebih lama tergantung kompleksitas kasus. - Apakah orang dewasa masih bisa pasang behel?
Bisa. Banyak pasien dewasa yang berhasil memperbaiki senyum dan fungsi gigi dengan perawatan ortodontik.
Sumber Rujukan
- Healthline. (2020). Do I need braces? How to tell when adults or children need them. Diakses pada 25 Agustus 2025 dari https://www.healthline.com/health/do-i-need-braces
- Verywell Health. (2022). Orthodontics: Methods, timelines, and what to expect. Diakses pada 25 Agustus 2025 dari https://www.verywellhealth.com/orthodontics-4014063
- Petrous Orthodontics. (2024). Do I need braces? Petrous Orthodontics can help you find out. Diakses pada 25 Agustus 2025 dari https://www.petrousortho.com/do-i-need-braces
- Albuquerque Orthodontics. (2023). Signs you need orthodontic treatment now. Diakses pada 25 Agustus 2025 dari https://abqorthodontics.com/signs-you-need-orthodontic-treatment-now
- Moresca, R. (2018). Orthodontic treatment time: Can it be shortened? Dental Press Journal of Orthodontics, 23(6), 90–105. https://doi.org/10.1590/2177-6709.23.6.090-105.sar
Diakses pada 25 Agustus 2025 dari https://www.scielo.br/j/dpjo/a/SrqMhHkQy53pScFTK9rc9bB/?lang=en

